<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Buletin Media Ilmu</title>
	<atom:link href="http://mediailmuku.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mediailmuku.wordpress.com</link>
	<description>Singkat, Praktis, dan Ilmiah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Nov 2009 05:37:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mediailmuku.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/93084c0cbdc7a001097d6e750c05f2af?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Buletin Media Ilmu</title>
		<link>http://mediailmuku.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mediailmuku.wordpress.com/osd.xml" title="Buletin Media Ilmu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mediailmuku.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Urgensi Pendidikan Anak</title>
		<link>http://mediailmuku.wordpress.com/2009/11/11/urgensi-pendidikan-anak/</link>
		<comments>http://mediailmuku.wordpress.com/2009/11/11/urgensi-pendidikan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 05:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediailmuku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediailmuku.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Islam sangat memperhatikan pendidikan anak. Bagaimana tidak, sedangkan mereka itu adalah generasi penerus perjuangan umat. Di masa depan, merekalah yang akan mengambil bagian dalam memakmurkan muka bumi ini dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Allah ta&#8217;ala telah menjanjikan (yang artinya), “Seandainya para penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya akan Kami bukakan untuk mereka berkah dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediailmuku.wordpress.com&amp;blog=10238038&amp;post=11&amp;subd=mediailmuku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>Islam sangat memperhatikan pendidikan anak. Bagaimana tidak, sedangkan mereka itu adalah generasi penerus perjuangan umat. Di masa depan, merekalah yang akan mengambil bagian dalam memakmurkan muka bumi ini dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan.</p>
<p><span id="more-11"></span>Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah menjanjikan (yang artinya), <em>“Seandainya para penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya akan Kami bukakan untuk mereka berkah dari langit dan bumi.”</em> (QS. al-A&#8217;raaf: 96). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.”</em> (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Perintah untuk mendidik keluarga</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”</em> (QS. at-Tahrim: 6). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menyebutkan riwayat dari para sahabat tentang makna ayat ini. Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> tatkala menjelaskan kandungan ayat ini berkata, <em>“Artinya ajarkanlah adab dan ilmu kepada mereka.”</em> Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Artinya lakukanlah ketaatan kepada Allah, jauhilah kemaksiatan kepada Allah. Perintahkanlah keluarga kalian untuk berdzikir niscaya Allah akan selamatkan kalian dari api neraka.”</em> Mujahid menjelaskan, <em>“Artinya bertakwalah kepada Allah dan berikanlah wasiat/nasehat kepada keluargamu untuk bertakwa kepada Allah.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [4/408]).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tanggung jawab pendidikan di pundak orang tua</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menegaskan, <em>“Seorang lelaki (bapak) adalah pemimpin bagi keluarganya dan pasti akan dimintai pertanggungjawaban tentang orang yang dipimpinnya. Seorang perempuan (ibu, istri) adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban mengenai orang yang dipimpinnya.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim). Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dalam mengurus anak-anaknya niscaya mereka pun akan bertakwa kepada Allah dalam mengurus orang tuanya. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakan hak anak-anaknya niscaya mereka pun akan menyia-nyiakan haknya di saat dia membutuhkan bantuan mereka.” </em>(<em>Syarh Riyadhus Shalihin</em> [2/89])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bekali anak dengan ilmu agama</strong></p>
<p>Ilmu agama merupakan pintu gerbang menuju kebahagiaan keluarga dan putra-putri anda. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki menjadi baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam perkara agamanya.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda, <em>“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menimba ilmu -agama- maka Allah akan mudahkan untuknya jalan menuju surga.”</em> (HR. Muslim). Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan setiap hari sekali atau dua kali. Adapun ilmu senantiasa dibutuhkan sebanyak bilangan hembusan nafas.”</em> (<em>al-&#8217;Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu</em>).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ajarkan akidah/keimanan yang benar</strong></p>
<p>Allah<em> ta&#8217;ala </em>berfirman (yang artinya), <em>“Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya di saat dia sedang menasehatinya: Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.”</em> (QS. Luqman: 13). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Apabila mereka berdua -kedua orang tuamu- memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang pasti tidak ada ilmu tentangnya maka janganlah kamu patuh kepada keduanya, dan bergaullah dengan keduanya di dunia dengan pergaulan yang baik.”</em> (QS. Luqman: 15)</p>
<p>Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> menceritakan; Suatu hari aku membonceng di belakang Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka beliau berpesan kepadaku, <em>“Wahai anak kecil! Aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya akan kau temui Dia senantiasa di hadapanmu. Apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Dan apabila kamu meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah&#8230;”</em> (HR. Tirmidzi).</p>
<p>Keimanan merupakan pondasi agama seseorang. Apabila orang tua menginginkan putra-putrinya menjadi generasi penerus yang soleh dan solihah maka sudah semestinya mereka memberikan pendidikan akidah yang benar kepada mereka. Sebab tauhid yang benar merupkan kunci kebahagiaan di dunia dan di akherat. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik) mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”</em> (QS. al-An&#8217;am: 82)</p>
<p><strong>Membimbing anak supaya beribadah dengan benar</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan sholat ketika mereka sudah berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka apabila tidak melaksanakannya di saat umur mereka sudah mencapai sepuluh tahun, dan pisahkanlah di antara mereka dalam tempat tidurnya.”</em> (HR. Abu Dawud, hasan). Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ini adalah sebagian hak anak-anak kepada orang tua mereka yaitu semestinya mereka memerintahkan anak-anaknya untuk mengerjakan sholat apabila mereka telah mencapai umur tujuh tahun dan hendaknya mereka dipukul atasnya artinya apabila mereka melalaikannya ketika mereka sudah berusia sepuluh tahun, akan tetapi dengan syarat apabila mereka -anak-anak- itu berakal (tidak gila).”</em>(<em>Syarh Riyadhus Shalihin</em> [2/89])</p>
<p><strong>Teladan Nabi dalam mendidik anak kecil</strong></p>
<p>Umar bin Abi Salamah menceritakan; Dahulu ketika masih kecil saya diasuh oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Suatu saat tanganku bergerak kesana-kemari di atas piring makanan. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun berkata kepadaku, <em>“Hai anak kecil, sebutlah nama Allah (baca bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat kepadamu.”</em> Sejak itu cara makanku selalu seperti itu (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam hadits ini terkandung beberapa pelajaran, di antaranya adalah: wajib bagi seorang manusia (baca: bapak) untuk mendidik anak-anaknya tentang tata cara makan dan minum dan mengajarkan apa yang semestinya diucapkan ketika akan makan dan minum sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kepada anak asuhnya. Di dalam hadits ini juga ditunjukkan betapa mulia akhlak Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan bagusnya cara pengajaran beliau. Karena beliau tidak menghardik anak ini ketika tangannya bergerak kesana-kemari di atas piring hidangan, akan tetapi beliau mengajarinya dengan lembut dan menyerunya dengan lembut pula, &#8216;Hai anak kecil, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu&#8217;&#8230;”</em> (<em>Syarh Riyadhus Shalihin</em> [2/88-89])</p>
<p><strong>Memperingatkan anak dari perkara yang diharamkan</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Sesungguhnya Rabbku hanyalah mengharamkan perkara-perkara yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas,  mempersekutukan Allah dengan apa pun juga yang tidak pernah Allah turunkan hujjah untuknya, dan kamu berbicara atas nama Allah dalam suatu perkara yang tidak kamu ketahui.”</em> (QS. al-A&#8217;raaf: 33).</p>
<p>Suatu ketika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ditanya mengenai sebab yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab, <em>“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”</em> Dan ketika ditanya mengenai sebab yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka, maka beliau menjawab, <em>“Mulut dan kemaluan.”</em> (HR. Tirmidzi, sahih gharib)</p>
<p><strong>Memotivasi anak untuk meneladani orang-orang soleh </strong></p>
<p>Salah satu cara paling mudah untuk mengajarkan kebaikan kepada anak-anak adalah dengan menceritakan kemuliaan yang diperoleh oleh orang-orang yang taat kepada Allah. Dan menanamkan keyakinan kepada mereka bahwa orang yang ikhlas dalam membela agama Allah maka Allah pasti akan membelanya. Seperti contohnya dengan mengisahkan tentang tujuh golongan manusia yang mendapatkan naungan Allah di hari kiamat ketika matahari didekatkan sejarak satu mil. Dan di antara ketujuh golongan itu kata Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah, <em>“Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Allah.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman tentang para pemuda Kahfi dalam ayat-Nya (yang artinya), <em>“Sesungguhnya mereka itu adalah para pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami pun tambahkan kepada mereka petunjuk.”</em> (QS. al-Kahfi: 13). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong -agama- Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.”</em> (QS. Muhammad: 7). Allah<em> ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan yang melakukan amal salih, bahwa Allah akan mengangkat mereka menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana kekuasaan yang diberikan kepada orang-orang terdahulu sebelum mereka, dan Allah akan meneguhkan agama mereka yang diridhai-Nya untuk mereka dan Allah akan menukar rasa takut yang meliputi mereka menjadi keamanan. Mereka beribada kepada-Ku semata dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun.”</em> (QS. an-Nur: 55)</p>
<p>Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat bagi para orang tua yang menginginkan munculnya putra-putri yang salih dan salihah demi mewujudkan sebuah negeri yang aman sentosa dan senantiasa mendapatkan curahan ampunan dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>, <em>baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur</em>. Segala puji hanya milik Allah. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediailmuku.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediailmuku.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediailmuku.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediailmuku.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mediailmuku.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mediailmuku.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mediailmuku.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mediailmuku.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediailmuku.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediailmuku.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediailmuku.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediailmuku.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediailmuku.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediailmuku.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediailmuku.wordpress.com&amp;blog=10238038&amp;post=11&amp;subd=mediailmuku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediailmuku.wordpress.com/2009/11/11/urgensi-pendidikan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c272bd7882dd8c9651febb36efc69766?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mediailmuku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Musibah, Antara Pahala dan Dosa</title>
		<link>http://mediailmuku.wordpress.com/2009/11/11/musibah-antara-pahala-dan-dosa/</link>
		<comments>http://mediailmuku.wordpress.com/2009/11/11/musibah-antara-pahala-dan-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 04:35:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediailmuku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediailmuku.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Salawat dan salam semoga tercurah kepada teladan kaum beriman Muhammad bin Abdullah, dan juga para pengikutnya yang setia kepada ajaran-ajarannya di saat suka maupun duka. Amma ba&#8217;du. Musibah gempa kembali mengguncang. Korban pun berjatuhan. Manusia kembali teringat akan kelemahan dan keterbatasan dirinya. Kehidupan ada akhirnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediailmuku.wordpress.com&amp;blog=10238038&amp;post=7&amp;subd=mediailmuku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Salawat dan salam semoga tercurah kepada teladan kaum beriman Muhammad bin Abdullah, dan juga para pengikutnya yang setia kepada ajaran-ajarannya di saat suka maupun duka. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Musibah gempa kembali mengguncang. Korban pun berjatuhan. Manusia kembali teringat akan kelemahan dan keterbatasan dirinya. Kehidupan ada akhirnya, dan kelak mereka akan dihidupkan untuk menerima balasan atas amal yang mereka perbuat di alam dunia. Melihat saudara kita yang tertimpa musibah, tentunya kita merasa iba dan berusaha untuk bisa meringankan penderitaan mereka. Di sisi lain, kita juga bisa memetik pelajaran berharga di balik deraan musibah dan bencana. Apakah kita termasuk orang yang bersabar ketika musibah itu tiba, dan apakah kita termasuk orang yang bersyukur kepada-Nya ketika masa-masa lapang dan senang?</p>
<p><span id="more-7"></span><strong>Takdir Allah Yang Maha Bijaksana</strong></p>
<p>Sesungguhnya musibah dan bencana merupakan bagian dari takdir Allah Yang Maha Bijaksana. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.”</em> (QS. at-Taghabun: 11)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menukil keterangan Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> bahwa yang dimaksud dengan izin Allah di sini adalah perintah-Nya yaitu ketetapan takdir dan kehendak-Nya. Beliau juga menjelaskan bahwa barang siapa yang tertimpa musibah lalu menyadari bahwa hal itu terjadi dengan takdir dari Allah kemudian dia pun bersabar, mengharapkan pahala, dan pasrah kepada takdir yang ditetapkan Allah niscaya Allah akan menunjuki hatinya. Allah akan gantikan kesenangan dunia yang luput darinya -dengan sesuatu yang lebih baik, pent- yaitu berupa hidayah di dalam hatinya dan keyakinan yang benar. Allah berikan ganti atas apa yang Allah ambil darinya, bahkan terkadang penggantinya itu lebih baik daripada yang diambil. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> ketika menafsirkan firman Allah (yang artinya), <em>“Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya.”</em> Maksudnya adalah Allah akan tunjuki hatinya untuk merasa yakin sehingga dia menyadari bahwa apa yang -ditakdirkan- menimpanya pasti tidak akan meleset darinya. Begitu pula segala yang ditakdirkan tidak menimpanya juga tidak akan pernah menimpa dirinya (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [4/391] cet. Dar al-Fikr)</p>
<p>Beliau -Ibnu Katsir- juga menukil keterangan al-A&#8217;masy yang meriwayatkan dari Abu Dhabyan, dia berkata, <em>“Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini &#8216;barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya&#8217; dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, &#8216;Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya.”</em> Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa&#8217;id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, <em>“Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja&#8217; yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un.”</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [4/391] cet. Dar al-Fikr)</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa ayat di atas berlaku umum untuk semua musibah, baik yang menimpa jiwa/nyawa, harta, anak, orang-orang yang dicintai, dan lain sebagainya. Maka segala musibah yang menimpa hamba adalah dengan ketentuan qadha&#8217; dan qadar Allah. Ilmu Allah telah mendahuluinya, kejadian itu telah dicatat oleh pena takdir-Nya. Kehendak-Nya pasti terlaksana dan hikmah/kebijaksanaan Allah memang menuntut terjadinya hal itu. Namun, yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah hamba yang tertimpa musibah itu menunaikan kewajiban dirinya ketika berada dalam kondisi semacam ini ataukah dia tidak menunaikannya? Apabila dia menunaikannya maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah ruah di dunia dan di akherat. Apabila dia mengimani bahwasanya musibah itu datang dari sisi Allah sehingga dia merasa ridha atasnya dan menyerahkan segala urusannya -kepada Allah, pent- niscaya Allah akan tunjuki hatinya. Dengan sebab itulah ketika musibah datang hatinya akan tetap tenang dan tidak tergoncang seperti yang biasa terjadi pada orang-orang yang tidak mendapat karunia hidayah Allah di dalam hatinya. Dalam keadaan seperti itu Allah karuniakan kepada dirinya -seorang mukmin- keteguhan ketika terjadinya musibah dan mampu menunaikan kewajiban untuk sabar. Dengan sebab itulah dia akan memperoleh pahala di dunia, di sisi lain ada juga balasan yang Allah simpan untuk-Nya dan akan diberikan kepadanya kelak di akherat. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Sesungguhnya hanya akan disempurnakan balasan bagi orang-orang yang sabar itu dengan tanpa batas hitungan.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman </em>[1/867]<em>, </em>software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p>Beliau melanjutkan, dari sinilah dapat dimengerti bahwa barang siapa yang tidak beriman terhadap takdir Allah ketika terjadinya musibah dan dia meyakini bahwa apa yang terjadi sekedar mengikuti fenomena alam dan sebab-sebab yang tampak niscaya orang semacam itu akan dibiarkan tanpa petunjuk dan dibuat bersandar kepada dirinya sendiri. Apabila seorang hamba disandarkan hanya kepada kekuatan dirinya sendiri maka tidak ada yang diperolehnya melainkan keluhan dan penyesalan yang hal itu merupakan hukuman yang disegerakan bagi seorang hamba sebelum hukuman di akherat akibat telah melalaikan kewajiban bersabar. Di sisi yang lain, ayat di atas juga menunjukkan bahwasanya setiap orang yang beriman terhadap segala perkara yang diperintahkan untuk diimani, seperti iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, takdir yang baik dan yang buruk, dan melaksanakan konsekuensi keimanan itu dengan menunaikan berbagai kewajiban, maka sesungguhnya hal ini merupakan sebab paling utama untuk mendapatkan petunjuk Allah dalam menyikapi keadaan yang dialaminya sehingga dia bisa berucap dan bertindak dengan benar. Dia akan mendapatkan petunjuk ilmu maupun amalan. Inilah balasan paling utama yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman. Maka orang-orang beriman itulah orang yang hatinya paling mendapatkan petunjuk di saat-saat berbagai musibah dan bencana menggoncangkan jiwa kebanyakan manusia. Keteguhan itu ditimbulkan dari kokohnya keimanan yang tertanam di dalam jiwa mereka (dengan sedikit peringkasan dari<em> Taisir al-Karim ar-Rahman </em>[1/867]<em>, </em>software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> menjelaskan bahwa di dalam ayat di atas terkandung beberapa pelajaran yang agung, yaitu:</p>
<ol>
<li>Segala musibah yang menimpa itu terjadi dengan      qadha&#8217; dan qadar dari Allah <em>ta&#8217;ala</em></li>
<li>Merasa ridha terhadap takdir tersebut dan bersabar      dalam menghadapi musibah merupakan bagian dari nilai-nilai keimanan, sebab      Allah menamakan sabar di sini dengan iman</li>
<li>Kesabaran itu akan membuahkan hidayah menuju      kebaikan di dalam hati dan kekuatan iman dan keyakinan (<em>I&#8217;anat      al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid</em> [3/140] software Maktabah      asy-Syamilah)</li>
</ol>
<p><strong>Kedudukan Sabar dan Pengertiannya</strong></p>
<p>Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, <em>“Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.”</em> (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Mushannaf</em>nya [31079] dan al-Baihaqi dalam <em>Syu&#8217;ab al-Iman</em> [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalam <em>Dha&#8217;if al-Jami&#8217;</em> [3535], lihat <em>Shahih wa Dha&#8217;if al-Jami&#8217; as-Shaghir</em> [17/121] software Maktabah asy-Syamilah). Walaupun secara sanad atsar ini dinilai lemah, namun secara makna bisa diterima. Hal itu dikarenakan cakupan sabar yang demikian luas dalam agama Islam. Ia mencakup sikap seorang hamba dalam menghadapi berbagai perintah dan larangan serta berbagai keadaan yang dialami manusia di dalam kehidupan, di saat senang maupun susah. Untuk itu, marilah kita cermati pengertian sabar ini agar jelas bagi kita bahwa hidup tanpa kesabaran pada akhirnya akan menyeret manusia dalam jurang kekafiran.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> menjelaskan, <em>“Sabar secara bahasa artinya adalah menahan diri. Allah ta&#8217;ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), &#8216;Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka&#8217;. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari&#8217;at, sabar adalah: menahan diri di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dan untuk meninggalkan kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. Para ulama menyebutkan bahwa sabar itu ada tiga macam: sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah, dan sabar saat menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan.”</em> (<em>I&#8217;anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid</em> [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p><strong>Ketika kesabaran lenyap</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu</em> <em>&#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua buah perkara dalam diri manusia yang merupakan bentuk kekafiran. Mencaci maki garis keturunan dan meratapi mayit.”</em> (HR. Muslim dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud hadits ini adalah kedua perbuatan ini tergolong perbuatan orang-orang kafir (<em>Syarh an-Nawawi &#8216;ala Muslim</em> [2/57] software Maktabah asy-Syamilah). Imam Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa hadits ini mencakup dua makna. Yang pertama yang dimaksud kufur di sini adalah kufur nikmat -tidak sampai mengeluarkan dari agama, pent- sedangkan yang kedua yang dimaksud adalah keduanya digolongkan sebagai perbuatan orang-orang kafir (<em>Kaysf al-Musykil min Hadits Shahihain</em> [1/1025] software Maktabah asy-Syamilah).</p>
<p>Di antara pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah:</p>
<ol>
<li>Diharamkannya mencaci maki nasab/garis keturunan      dan meratapi mayit</li>
<li>Isyarat yang menunjukkan bahwasanya kedua      perbuatan ini akan tetap muncul di dalam umat ini</li>
<li>Bisa jadi di dalam diri seseorang terdapat sifat      atau ciri kekafiran namun dia tidak bisa dicap sebagai orang kafir      -semata-mata karena hal itu-</li>
<li>Islam melarang segala sesuatu yang mengarah kepada      perpecahan (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, Syaikh      Muhammad bin Abdul &#8216;Aziz al-Qor&#8217;awi, hal. 272)</li>
</ol>
<p><strong>Hikmah di balik derita</strong></p>
<p>Tidaklah kita ragukan barang sedikitpun bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana, tidak sedikit pun Allah menganiaya hamba-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, &#8216;Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya&#8217;. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.”</em> (QS. al-Baqarah: 155-157)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.”</em> (HR. Muslim). Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan bahwa ada kalanya Allah <em>ta&#8217;ala</em> memberikan musibah kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa yang pernah dilakukannya selama hidup. Hal itu supaya nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka beban yang dibawanya semakin bertambah ringan. Demikian pula terkadang Allah memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka namun dalam rangka menunda hukuman mereka di alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akherat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar dan begitu berat beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan bahwa dirinya memang benar-benar layak menerima siksaan Allah. Allah memberikan karunia kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan hukuman kepada siapa saja dengan penuh keadilan. Allah tidak perlu ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, namun mereka -para hamba- itulah yang harus dipertanyakan tentang perbuatan dan tingkah polah mereka (diolah dari keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul &#8216;Aziz al-Qor&#8217;awi dalam <em>al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid</em>, hal. 275)</p>
<p>Di antara pelajaran berharga bagi kehidupan kita dari hadits yang agung ini adalah:</p>
<ol>
<li>Allah memiliki kehendak yang sesuai dengan      kemuliaan dan keagungan diri-Nya</li>
<li>Kebaikan dan keburukan semuanya ditakdirkan oleh      Allah <em>ta&#8217;ala</em></li>
<li>Cobaan/musibah yang menimpa orang-orang yang      beriman merupakan salah satu tanda kebaikan baginya selama hal itu tidak      menyebabkannya meninggalkan kewajiban atau terjatuh dalam perkara yang      diharamkan</li>
<li>Semestinya seseorang merasa khawatir atas      kenikmatan dan kesehatan yang selama ini senantiasa dia rasakan. Sebab      boleh jadi itu adalah istidraj/bentuk penundaan hukuman baginya, sementara      dia tahu betapa banyak maksiat yang telah dilakukannya, <em>wal &#8216;iyadzu      billah</em>.</li>
<li>Wajibnya untuk berprasangka baik kepada Allah atas      segala perkara dunia yang tidak mengenakkan yang menimpa diri kita</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bahwa pemberian Allah      kepada hamba-Nya tidak selalu mencerminkan bahwa Allah meridhai hal itu      untuknya. Seperti contohnya orang yang setiap kali hendak minum khamr      kemudian dia selalu mendapatkan kemudahan untuk mendapatkannya, atau      bahkan memperolehnya secara gratis. Maka ini semua bukanlah bukti kalau      Allah menyukai hal itu untuknya (diambil dari <em>al-Jadid fi Syarhi Kitab      at-Tauhid</em>, hal. 275 dengan sedikit tambahan keterangan dan      contoh)</li>
</ol>
<p>Inilah uraian ringkas yang bisa kami sajikan dalam tuisan yang sangat sederhana ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin </em>[Ari Wahyudi]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediailmuku.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediailmuku.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediailmuku.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediailmuku.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mediailmuku.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mediailmuku.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mediailmuku.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mediailmuku.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediailmuku.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediailmuku.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediailmuku.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediailmuku.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediailmuku.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediailmuku.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediailmuku.wordpress.com&amp;blog=10238038&amp;post=7&amp;subd=mediailmuku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediailmuku.wordpress.com/2009/11/11/musibah-antara-pahala-dan-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c272bd7882dd8c9651febb36efc69766?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mediailmuku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jihad vs Terorisme</title>
		<link>http://mediailmuku.wordpress.com/2009/11/11/jihad-vs-terorisme/</link>
		<comments>http://mediailmuku.wordpress.com/2009/11/11/jihad-vs-terorisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 04:23:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediailmuku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Mujahid]]></category>
		<category><![CDATA[Terorisme]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediailmuku.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Di masa kita sekarang ini istilah jihad telah diselewengkan maknanya oleh sebagian kelompok. Menurut mereka aksi-aksi terorisme berupa bom bunuh diri, pembunuhan orang-orang kafir tanpa alasan yang benar, dan menimbulkan kekacauan merupakan bagian dari jihad. Sesungguhnya ini adalah kenyataan yang sangat menyedihkan. Islam rahmatan lil &#8216;alamin Ajaran Islam adalah ajaran yang mendatangkan rahmat bagi umat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediailmuku.wordpress.com&amp;blog=10238038&amp;post=4&amp;subd=mediailmuku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di masa kita sekarang ini istilah jihad telah diselewengkan maknanya oleh sebagian kelompok. Menurut mereka aksi-aksi terorisme berupa bom bunuh diri, pembunuhan orang-orang kafir tanpa alasan yang benar, dan menimbulkan kekacauan merupakan bagian dari jihad. Sesungguhnya ini adalah kenyataan yang sangat menyedihkan.</p>
<p><span id="more-4"></span><strong>Islam rahmatan lil &#8216;alamin</strong></p>
<p>Ajaran Islam adalah ajaran yang mendatangkan rahmat bagi umat manusia. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia.&#8221;</em> (QS. al-Anbiya&#8217;: 107). Ibnu Abbas menerangkan bahwa rahmat tersebut bersifat umum mencakup orang yang baik-baik maupun orang yang jahat. Barang siapa yang beriman kepada beliau -Nabi Muhammad- maka akan sempurnalah rahmatnya di dunia sekaligus di akhirat. Adapun orang yang kufur kepadanya maka hukuman -yang sesungguhnya- akan disisihkan darinya sampai datangnya kematian dan hari kiamat (lihat <em>Zaad al-Masir</em> [4/365] as-Syamilah)</p>
<p>Di antara bukti kasih sayang Islam kepada umat manusia adalah Islam tidak membenarkan penumpahan darah manusia tanpa alasan yang benar. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Janganlah kamu membunuh nyawa yang diharamkan Allah -untuk dibunuh- kecuali dengan sebab yang benar.&#8221;</em> (QS. al-An&#8217;am: 151). al-Baghawi menjelaskan bahwa di dalam ayat ini Allah mengharamkan membunuh seorang mukmin dan mu&#8217;ahad -orang kafir yang terikat perjanjian keamanan dengan umat Islam- kecuali dengan sebab yang benar yaitu sebab-sebab yang membuat orang itu boleh dibunuh seperti karena murtad, dalam rangka qishash -bunuh balas bunuh-, atau perzinaan yang mengharuskan hukuman rajam bagi pelakunya (lihat <em>Ma&#8217;alim at-Tanzil</em> [3/203] as-Syamilah)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Barang siapa yang membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian -dengan kaum muslimin atau pemerintahnya- maka dia tidak akan mencium bau surga. Sesungguhnya baunya itu akan tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.&#8221;</em> (HR. Bukhari). al-Munawi menjelaskan bahwa ancaman yang disebutkan di dalam hadits ini merupakan dalil bagi para ulama semacam adz-Dzahabi dan yang lainnya untuk menegaskan bahwa perbuatan itu -membunuh orang kafir mu&#8217;ahad- termasuk perbuatan dosa besar (<em>Faidh al-Qadir</em> [6/251] as-Syamilah).</p>
<p>Demikian juga Islam tidak memperkenankan perilaku bunuh diri -meskipun dengan niat yang baik, yaitu untuk memerangi musuh- sebagaimana dalam firman-Nya (yang artinya), <em>&#8220;Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha menyayangi dirimu.&#8221;</em> (QS. an-Nisa&#8217;: 29). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Barang siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu alat maka dia akan disiksa dengannya pada hari kiamat.&#8221;</em> (HR. Muslim). Yaitu dia bunuh diri dengan alat untuk membunuh, meminum racun dan lain sebagainya (lihat <em>Tuhfat al-Ahwadzi</em> [6/435] as-Syamilah)</p>
<p><strong>Berbuat dosa tapi mengharap pahala</strong></p>
<p>Namun anehnya, orang-orang yang melakukan pengeboman dan aksi bunuh diri itu merasa bangga dan menganggap dirinya sebagai mujahid. Sesungguhnya ini merupakan hasil tipu daya syaitan kepada mereka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Katakanlah: Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi amalnya. Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dunia sementara mereka mengira telah melakukan sesuatu kebaikan dengan sebaik-baiknya.&#8221;</em> (QS. al-Kahfi: 103-104). Ibnu Katsir mengatakan, <em>&#8220;Sesungguhnya ayat ini berlaku umum bagi siapa saja yang beribadah kepada Allah namun tidak di atas jalan yang diridhai Allah. Dia menyangka bahwa dia berada di pihak yang benar dan amalnya akan diterima. Padahal, sebenarnya dia adalah orang yang bersalah dan amalnya tertolak.&#8221;</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [5/151-152])</p>
<p>Mereka mencomot sebagian ayat dan memahaminya tidak sebagaimana mestinya. Mereka mengambil dalil yang samar (<em>mutasyabih</em>) dan meninggalkan dalil-dalil lain yang jelas dan tegas (<em>muhkam</em>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Dialah -Allah- yang telah menurunkan kepadamu Kitab suci itu, di antaranya ada ayat-ayat yang muhkam yaitu Ummul Kitab sedangkan yang lain adalah ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya menyimpan penyimpangan/zaigh maka mereka akan mengikuti ayat yang mutasyabih itu demi menimbulkan fitnah dan ingin menyimpangkan maknanya…&#8221;</em> (QS. Ali Imran: 7)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mustasyabihat maka mereka itulah orang-orang yang disebut oleh Allah -di dalam ayat tadi- maka waspadalah kamu dari bahaya mereka.&#8221;</em> (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dll). Penulis syarah Sunan Abu Dawud berkata, <em>&#8220;Ayat ini -Ali Imran ayat 7- berlaku umum bagi semua kelompok yang melenceng dari kebenaran yaitu dari kalangan kelompok-kelompok bid&#8217;ah….&#8221;</em> (<em>Aun al-Ma&#8217;bud</em> [10/117] as-Syamilah)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jihad yang sebenarnya</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>&#8220;Orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang/berjihad di jalan Kami niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik/ihsan.&#8221;</em> (QS. al-&#8217;Ankabut: 69). al-Baghawi menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, beliau berkata tentang tafsiran ayat ini, <em>&#8220;Yaitu orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh di dalam ketaatan kepada Kami niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan untuk meraih pahala dari Kami.&#8221; </em>(<em>Ma&#8217;alim at-Tanzil</em> [6/256] as-Syamilah)</p>
<p>Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya seorang mujahid sejati adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah -termasuk di dalamnya adalah dengan memerangi orang kafir dengan cara yang benar-, bukan dengan melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Orang yang berjihad adalah orang yang berjuang menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.&#8221;</em> (HR. Ahmad, as-Shahihah [549] as-Syamilah). Maka jelaslah bahwa terorisme bukan jihad. Terorisme sama artinya dengan menimbulkan kekacauan dan kerusakan di muka bumi. Sementara Allah tidak menyukainya. Allah berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang menebarkan kerusakan.&#8221;</em> (QS. al-Qashash: 77)</p>
<p><strong>Reaksi yang keliru</strong></p>
<p>Sebagian orang yang telah termakan oleh pemberitaan media massa yang tidak tepat menganggap bahwa lelaki yang berjenggot dan bercelana di atas mata kaki atau perempuan yang mengenakan cadar adalah bagian dari jaringan teroris. Padahal, anggapan semacam itu adalah anggapan yang kekanak-kanakan.</p>
<p>Semata-mata memiliki jenggot atau mengenakan cadar jelas tidak ada hubungannya dengan terorisme. Tidakkah kita ingat bahwa Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan kaum lelaki untuk memelihara jenggot? Nabi pun menegaskan bahwa mengenakan pakaian yang melebihi mata kaki adalah terlarang, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari. Tidakkah kita juga ingat bahwa para isteri Nabi pun mengenakan cadar? Apakah dengan penampilan seperti itu kemudian kita mengatakan bahwa Nabi dan isteri-isterinya terlibat dalam jaringan teroris?! Tentu saja anggapan yang demikian itu tadi adalah sesuatu yang terlalu berlebihan, bahkan mengada-ada.</p>
<p>Saudaraku sekalian, sesungguhnya kemuliaan Islam ini akan ternoda tatkala orang yang bukan ahlinya berbicara tentang ajaran agama. Tidakkah kita ingat firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>&#8220;Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.&#8221;</em> (QS. al-Isra&#8217;: 36). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara.&#8221;</em> Ada yang bertanya, <em>&#8220;Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?&#8221;</em>. Beliau menjawab, <em>&#8220;Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.&#8221;</em> (HR. Ibnu Majah, Shahihah [1887] as-Syamilah).</p>
<p><strong>Tetaplah menimba ilmu dan mencari kebenaran</strong></p>
<p>Dengan menyaksikan realita yang memilukan ini maka sudah semestinya kaum muslimin semakin meningkatkan semangat mereka untuk mengkaji ilmu agama dan berupaya untuk mengamalkannya. Sebab dengan cara itulah jalan ke surga akan menjadi mudah. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Barang siapa yang dikehendaki menjadi baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam urusan agamanya.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga mengatakan, <em>&#8220;Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu -agama- maka Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga.&#8221;</em> (HR. Muslim). Untuk bisa membedakan apakah suatu bentuk pemahaman benar atau tidak maka ilmu agama sangat diperlukan. Siapa saja membutuhkannya, entah itu polisi, pejabat Negara, pedagang, guru, karyawan, maupun mahasiswa, tidak terkecuali para ustadz, da&#8217;i dan kyai.</p>
<p>Dengan mengkaji al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah dengan pemahaman yang benar itulah kita akan mendapatkan jawaban atas permasalahan yang kita hadapi dan terbebas dari kesesatan berpikir. Sebaliknya, orang yang meninggalkannya akan binasa. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Barang siapa yang terus mengikuti petunjuk-Ku maka tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Tapi barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka dia akan mendapatkan penghidupan yang sempit dan kelak Kami akan menghimpunnya dalam keadaan buta. Orang itu berkata, &#8216;Wahai Rabbku mengapa Engkau himpunkan aku dalam keadaan buta, padahal dulu aku melihat?&#8217;. Maka Allah jawab, &#8216;Demikian itulah balasan yang layak kamu terima. Telah datang kepadamu ayat-ayat Kami namun kamu sengaja melupakannya, maka demikian pula pada hari ini kamu dilupakan.&#8217;.&#8221;</em> (QS. Thaha: 123-126)</p>
<p>Allah akan memuliakan orang yang mempelajari al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-harinya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur&#8217;an dan mengajarkannya.&#8221;</em> (HR. Bukhari). Beliau juga bersabda, <em>&#8220;Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat sebagian orang dengan sebab Kitab suci ini dan akan menghinakan sebagian yang lain karenanya pula.&#8221;</em> (HR. Muslim). Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat bagi penulis maupun pembacanya. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em> [Ari Wahyudi]<em>. </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediailmuku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediailmuku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediailmuku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediailmuku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mediailmuku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mediailmuku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mediailmuku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mediailmuku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediailmuku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediailmuku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediailmuku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediailmuku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediailmuku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediailmuku.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediailmuku.wordpress.com&amp;blog=10238038&amp;post=4&amp;subd=mediailmuku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediailmuku.wordpress.com/2009/11/11/jihad-vs-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c272bd7882dd8c9651febb36efc69766?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mediailmuku</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
