Urgensi Pendidikan Anak
Islam sangat memperhatikan pendidikan anak. Bagaimana tidak, sedangkan mereka itu adalah generasi penerus perjuangan umat. Di masa depan, merekalah yang akan mengambil bagian dalam memakmurkan muka bumi ini dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan.
Allah ta’ala telah menjanjikan (yang artinya), “Seandainya para penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya akan Kami bukakan untuk mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. al-A’raaf: 96). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3)
Perintah untuk mendidik keluarga
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. at-Tahrim: 6). Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari para sahabat tentang makna ayat ini. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu tatkala menjelaskan kandungan ayat ini berkata, “Artinya ajarkanlah adab dan ilmu kepada mereka.” Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Artinya lakukanlah ketaatan kepada Allah, jauhilah kemaksiatan kepada Allah. Perintahkanlah keluarga kalian untuk berdzikir niscaya Allah akan selamatkan kalian dari api neraka.” Mujahid menjelaskan, “Artinya bertakwalah kepada Allah dan berikanlah wasiat/nasehat kepada keluargamu untuk bertakwa kepada Allah.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/408]).
Tanggung jawab pendidikan di pundak orang tua
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Seorang lelaki (bapak) adalah pemimpin bagi keluarganya dan pasti akan dimintai pertanggungjawaban tentang orang yang dipimpinnya. Seorang perempuan (ibu, istri) adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban mengenai orang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dalam mengurus anak-anaknya niscaya mereka pun akan bertakwa kepada Allah dalam mengurus orang tuanya. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakan hak anak-anaknya niscaya mereka pun akan menyia-nyiakan haknya di saat dia membutuhkan bantuan mereka.” (Syarh Riyadhus Shalihin [2/89])
Bekali anak dengan ilmu agama
Ilmu agama merupakan pintu gerbang menuju kebahagiaan keluarga dan putra-putri anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki menjadi baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam perkara agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menimba ilmu -agama- maka Allah akan mudahkan untuknya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan setiap hari sekali atau dua kali. Adapun ilmu senantiasa dibutuhkan sebanyak bilangan hembusan nafas.” (al-’Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu).
Ajarkan akidah/keimanan yang benar
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya di saat dia sedang menasehatinya: Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Apabila mereka berdua -kedua orang tuamu- memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang pasti tidak ada ilmu tentangnya maka janganlah kamu patuh kepada keduanya, dan bergaullah dengan keduanya di dunia dengan pergaulan yang baik.” (QS. Luqman: 15)
Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma menceritakan; Suatu hari aku membonceng di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berpesan kepadaku, “Wahai anak kecil! Aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya akan kau temui Dia senantiasa di hadapanmu. Apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Dan apabila kamu meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah…” (HR. Tirmidzi).
Keimanan merupakan pondasi agama seseorang. Apabila orang tua menginginkan putra-putrinya menjadi generasi penerus yang soleh dan solihah maka sudah semestinya mereka memberikan pendidikan akidah yang benar kepada mereka. Sebab tauhid yang benar merupkan kunci kebahagiaan di dunia dan di akherat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik) mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. al-An’am: 82)
Membimbing anak supaya beribadah dengan benar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan sholat ketika mereka sudah berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka apabila tidak melaksanakannya di saat umur mereka sudah mencapai sepuluh tahun, dan pisahkanlah di antara mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud, hasan). Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Ini adalah sebagian hak anak-anak kepada orang tua mereka yaitu semestinya mereka memerintahkan anak-anaknya untuk mengerjakan sholat apabila mereka telah mencapai umur tujuh tahun dan hendaknya mereka dipukul atasnya artinya apabila mereka melalaikannya ketika mereka sudah berusia sepuluh tahun, akan tetapi dengan syarat apabila mereka -anak-anak- itu berakal (tidak gila).”(Syarh Riyadhus Shalihin [2/89])
Teladan Nabi dalam mendidik anak kecil
Umar bin Abi Salamah menceritakan; Dahulu ketika masih kecil saya diasuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu saat tanganku bergerak kesana-kemari di atas piring makanan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepadaku, “Hai anak kecil, sebutlah nama Allah (baca bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat kepadamu.” Sejak itu cara makanku selalu seperti itu (HR. Bukhari dan Muslim).
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Di dalam hadits ini terkandung beberapa pelajaran, di antaranya adalah: wajib bagi seorang manusia (baca: bapak) untuk mendidik anak-anaknya tentang tata cara makan dan minum dan mengajarkan apa yang semestinya diucapkan ketika akan makan dan minum sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak asuhnya. Di dalam hadits ini juga ditunjukkan betapa mulia akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bagusnya cara pengajaran beliau. Karena beliau tidak menghardik anak ini ketika tangannya bergerak kesana-kemari di atas piring hidangan, akan tetapi beliau mengajarinya dengan lembut dan menyerunya dengan lembut pula, ‘Hai anak kecil, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu’…” (Syarh Riyadhus Shalihin [2/88-89])
Memperingatkan anak dari perkara yang diharamkan
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Sesungguhnya Rabbku hanyalah mengharamkan perkara-perkara yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas, mempersekutukan Allah dengan apa pun juga yang tidak pernah Allah turunkan hujjah untuknya, dan kamu berbicara atas nama Allah dalam suatu perkara yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-A’raaf: 33).
Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Dan ketika ditanya mengenai sebab yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka, maka beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi, sahih gharib)
Memotivasi anak untuk meneladani orang-orang soleh
Salah satu cara paling mudah untuk mengajarkan kebaikan kepada anak-anak adalah dengan menceritakan kemuliaan yang diperoleh oleh orang-orang yang taat kepada Allah. Dan menanamkan keyakinan kepada mereka bahwa orang yang ikhlas dalam membela agama Allah maka Allah pasti akan membelanya. Seperti contohnya dengan mengisahkan tentang tujuh golongan manusia yang mendapatkan naungan Allah di hari kiamat ketika matahari didekatkan sejarak satu mil. Dan di antara ketujuh golongan itu kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Allah ta’ala berfirman tentang para pemuda Kahfi dalam ayat-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya mereka itu adalah para pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami pun tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS. al-Kahfi: 13). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong -agama- Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.” (QS. Muhammad: 7). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan yang melakukan amal salih, bahwa Allah akan mengangkat mereka menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana kekuasaan yang diberikan kepada orang-orang terdahulu sebelum mereka, dan Allah akan meneguhkan agama mereka yang diridhai-Nya untuk mereka dan Allah akan menukar rasa takut yang meliputi mereka menjadi keamanan. Mereka beribada kepada-Ku semata dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun.” (QS. an-Nur: 55)
Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat bagi para orang tua yang menginginkan munculnya putra-putri yang salih dan salihah demi mewujudkan sebuah negeri yang aman sentosa dan senantiasa mendapatkan curahan ampunan dari Allah ta’ala, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Segala puji hanya milik Allah. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah.







Tinggalkan sebuah Komentar